Monday, November 13, 2017

Viralisme

Jakarta - “Zaman Now” begitu merka menyebutnya, era dimana segala yang berbau moderenisasi berlomba-lomba dalam menjangkau level popularitas pada lingkungan masyarakat. Berbagai cara ditempuh demi mencapai tujuan ini, tujuan yang semata-mata hanya demi eksistensi diri serta menjadi alternatif lain dalam mengumpulkan pundi-pundi materialisme, hal-hal yang zaman now ini merupakan hal yang digandrungi oleh masyarakat khususnya kaula muda.
              Salah satu cara dalam mencapau tujuan tersebut adalah dengan mem-viral kan segala hal, baik yang penting, hingga tidak penting sekalipun. Pengertian viral adalah aktivitas di dunia maya yang menggambarkan penyebaran sebuah informasi melalui media online yang tersebar dengan cepat sehingga membuatnya menjadi populer dan menjadi perbincangan khalayak umum (www.sumberpengertian.com) . Coba anda ketik kata “viral” pada kolom-kolom pencarian yang sifatnya online. Apa yang anda temukan? Berbagai postingan baik visual, maupun audio visual berdurasi satu hingga 10 menit dapat anda temukan, berbagai konten dari konten yang isinya memuat konflik di masyarakat, statement para publik figur, semua di viral dengan dalih ini semua termasuk dalam azas demokrasi serta kebebasan dalam pers. Maka jangan heran pada era zaman now ini banyak bermunculan jurnalis-jurnalis dadakan bermodalkan perangkat digital pintar bertebaran menunggu kejadian yang dianggap “informatif” bagi mereka. Secara pers tujuan dari viral ini adalah demi menyebarkan segala hal yang berbau informatif kepada khalayak luas. Pertanyaan nya apakah konten “ibu-ibu marah ditilang polisi”, “pemilik mobil mengamuk, kendaraannya diangkut dishub” “tauran SMA A VS STM B” merupakan konten yang berbau informatif? Konten-konten tersebut merupakan contoh dari sekian banyak viralisme yang zaman now ini banyak bermunculan di kolom-kolom pencarian. Pertanyaanya sekarang apakah konten-konten tersebut termasuk golongan yang informatif? Anda-anda mungkin tau sendiri jawabannya, namun kenapa hal-hal tersebut justru lebih menarik animo masyarakat ketimbang viral-viral yang berisikian prestasi bangsa atau setidaknya lebih edukatif untuk dikonsumsi. Jangan salahkan bila pada era zaman now ini muncul juga hakim-hakim dunia maya yang beropini dan men-judgement fenomena-fenomena “informatif” dengan kata-kata yang kita sebut sebagai “bullying” tersebut, karena sesungguhnya kita sendiri para viralis yang menginginkan keadaan seperti ini.

              Sudah saatnya masyarakat merevolusi mental seperti yang dicanangkan oleh Bpk. Presiden Jokowidodo, karena memang pola pikir atau mental masayarakat sekarang merupakan momok untuk bangsa dan negri ini sendiri, janganlah kita hancur karena pola pikir kita sendiri, bangsa ini butuh sesutu yang benar-benar berbau prestasi dan informatif demi kemajuan bangsa dan negri kita tercinta ini.

Sunday, November 12, 2017

ANGKA


Selamat datang di era globalisasi milenialisme dimana materialsime merupakan tolak ukur dari suatu pencapaian akan kesuksesan, dimana nominal angka menentukan dalam lo mencari kesajahteraan. Sedikit humor bahwasanya hidup kita sekarang ditentukan dari angka-angka yang secara sistematis dapat dikorelasikan dengan tingkat ‘kebahagiaan” lo . Dari mulai menjalani proses akademik hingga terjun kedalam lingkaran hidup bermasyarakat, semua dinilai secara kuantitatif.
Disini mungkin gue akan berbicara dimana angka, 2,75, 3,25, 3,51 benar-benar akan menentukan bagaimana lo akan menghadapi anomali nya era globalisasi milenialsime sekarang. Mungkin angka-angka tadi tidak asing bagi lo lo semua yang berumur diatas 19 tahun keatas, bagi generasi yang lahir antara tahun 1996-1999 angka-angka tadi merupakan tolak kesuksesan dalam menghadapi lika-liku rutinitas yang sekarang lo sedang jalani, sedangkan bagi generasi ‘baru produktif’ (tahun 1995 – 1993) yang katanya secara ‘kualitatif’ telah dinilai dihargai dengan angka-angka tadi yang sifatnya kuantitatif. Pertanyaannya apakah angka-angka tadi secara kualitatif dapat menggambarkan sejauh mana kopetensi dari generasi baru pdroduktif ini? Melihat perkembangan dan sistem yang ada sekarang ada 2 jawaban untuk pertanyaan tadi, jawaban yang dilandasi dari tiap-tiap stake holder yang memandang berbeda akan angka-angka tadi. Bagi para penguasa tau lebih dibiliang tuan-tuan koorporasi yang membutuhkan ‘budak-budak’ korporat tentunya akan menggaris bawahi bahwasanya angka-angka tadi akan menjadi penentu tingkat kompetensi para generasi baru produktif ini, dimana angka 3 menjadi kunci utama pembuka pintu jika ingin mengikuti dan menjalani rutinitas korporat. Faktanya sekarang rutinitas koorporat merupakan damba an dari para generasi baru produktif ini, kenapa gue bisa berbicara seperti ini? Gue ambil contoh dari rekan-rekan satu generasi yang sempat berinteraksi dan menjalani proses akademik bersama, hampir 90% diantaranya mendambakan diri mereka menjalani rutinitas koorporat tadi termasuk gue sendiri, karena kembali lagi para tuan-tuan koorporasi ini menawarkan sejumlah angka-angka menarik yang sifatnya materialsime kepada calon-calon generasi baru produktif, ditambah seperti yang gue bilang di awal bahwasanya sekarang materialisme merupakan tolak ukur lo dalam mencari kesejahteraan. Bagi generasi baru produktif berlebel 3 kesempatan itu mungkin terbilang besar mengingat secara sistem tuan-tuan koorporasi meneptapkan standar minimal ‘kualitatif’ 3, sekarang bagi para generasi baru produktif berlebel 2,75, apakah tidak berhak menikmati kesajehteraan di era ini atau apakah generasi berlebel ini tidak punya kesempatan untuk menjalani rutinitas koorporat tadi? Sekarang pertanyaanya sejauh mana perbedaan 3 dan 2,75 yang benar-benar secara kualitatif dapat dilihat? Faktanya banyak generasi baru produktif berlebel 2,75 dapat berdampingan menjalani kehidupan koorporat dengan generasi berlebel 3, walaupun secara start up mungkin generasi berlebel 2,75 melewati pintu lain yang tidak sama dengan para generasi berlebel 3. Bagi gue itu tidak menjadi masalah, karena bagi gue yang terpenting adalah output yang kualitatif, bukan mereka yang quantitatif tapi angka yang ada sebenranya imajinatif. Gue ga menyalahkan karena memang lebel 3 dapat menggambarkan bahwa secara kualitatif dapat dikatakan baik, tergantung bagaimana cara mendapatkannya, namun bukan berarti angka 2,75 dapat dikatakan memiliki kopetensi yang kurang baik karena sebenarnya kalian tidak tahun apa yang mereka telah lalui sehingga menjadi manusia 2,75, steatment gue sekaligus menjadi jawaban kedua dari pertanyaan di awal tadi dengan kata lain jawabannya keduanya adalah “belum tentu, tergantung cara mendapatkannya”.


ANGKA


Selamat datang di era globalisasi milenialisme dimana materialsime merupakan tolak ukur dari suatu pencapaian akan kesuksesan, dimana nominal angka menentukan dalam lo mencari kesajahteraan. Sedikit humor bahwasanya hidup kita sekarang ditentukan dari angka-angka yang secara sistematis dapat dikorelasikan dengan tingkat ‘kebahagiaan” lo . Dari mulai menjalani proses akademik hingga terjun kedalam lingkaran hidup bermasyarakat, semua dinilai secara kuantitatif.
Disini mungkin gue akan berbicara dimana angka, 2,75, 3,25, 3,51 benar-benar akan menentukan bagaimana lo akan menghadapi anomali nya era globalisasi milenialsime sekarang. Mungkin angka-angka tadi tidak asing bagi lo lo semua yang berumur diatas 19 tahun keatas, bagi generasi yang lahir antara tahun 1996-1999 angka-angka tadi merupakan tolak kesuksesan dalam menghadapi lika-liku rutinitas yang sekarang lo sedang jalani, sedangkan bagi generasi ‘baru produktif’ (tahun 1995 – 1993) yang katanya secara ‘kualitatif’ telah dinilai dihargai dengan angka-angka tadi yang sifatnya kuantitatif. Pertanyaannya apakah angka-angka tadi secara kualitatif dapat menggambarkan sejauh mana kopetensi dari generasi baru pdroduktif ini? Melihat perkembangan dan sistem yang ada sekarang ada 2 jawaban untuk pertanyaan tadi, jawaban yang dilandasi dari tiap-tiap stake holder yang memandang berbeda akan angka-angka tadi. Bagi para penguasa tau lebih dibiliang tuan-tuan koorporasi yang membutuhkan ‘budak-budak’ korporat tentunya akan menggaris bawahi bahwasanya angka-angka tadi akan menjadi penentu tingkat kompetensi para generasi baru produktif ini, dimana angka 3 menjadi kunci utama pembuka pintu jika ingin mengikuti dan menjalani rutinitas korporat. Faktanya sekarang rutinitas koorporat merupakan damba an dari para generasi baru produktif ini, kenapa gue bisa berbicara seperti ini? Gue ambil contoh dari rekan-rekan satu generasi yang sempat berinteraksi dan menjalani proses akademik bersama, hampir 90% diantaranya mendambakan diri mereka menjalani rutinitas koorporat tadi termasuk gue sendiri, karena kembali lagi para tuan-tuan koorporasi ini menawarkan sejumlah angka-angka menarik yang sifatnya materialsime kepada calon-calon generasi baru produktif, ditambah seperti yang gue bilang di awal bahwasanya sekarang materialisme merupakan tolak ukur lo dalam mencari kesejahteraan. Bagi generasi baru produktif berlebel 3 kesempatan itu mungkin terbilang besar mengingat secara sistem tuan-tuan koorporasi meneptapkan standar minimal ‘kualitatif’ 3, sekarang bagi para generasi baru produktif berlebel 2,75, apakah tidak berhak menikmati kesajehteraan di era ini atau apakah generasi berlebel ini tidak punya kesempatan untuk menjalani rutinitas koorporat tadi? Sekarang pertanyaanya sejauh mana perbedaan 3 dan 2,75 yang benar-benar secara kualitatif dapat dilihat? Faktanya banyak generasi baru produktif berlebel 2,75 dapat berdampingan menjalani kehidupan koorporat dengan generasi berlebel 3, walaupun secara start up mungkin generasi berlebel 2,75 melewati pintu lain yang tidak sama dengan para generasi berlebel 3. Bagi gue itu tidak menjadi masalah, karena bagi gue yang terpenting adalah output yang kualitatif, bukan mereka yang quantitatif tapi angka yang ada sebenranya imajinatif. Gue ga menyalahkan karena memang lebel 3 dapat menggambarkan bahwa secara kualitatif dapat dikatakan baik, tergantung bagaimana cara mendapatkannya, namun bukan berarti angka 2,75 dapat dikatakan memiliki kopetensi yang kurang baik karena sebenarnya kalian tidak tahun apa yang mereka telah lalui sehingga menjadi manusia 2,75, steatment gue sekaligus menjadi jawaban kedua dari pertanyaan di awal tadi dengan kata lain jawabannya keduanya adalah “belum tentu, tergantung cara mendapatkannya”.


Tuesday, February 9, 2016

PERSPEKTIF IMAN


            Merupakan hal yang sangat biasa jika kita berbicara akan perbedaan, perbedaan akan suku bangsa, bahasa, budaya, dan prespektif akan iman dalam hal ini agama. Mungkin lo sering menemukan dalam kutipan-kutpan yang berceceran luas yang membahas perbedan akan perspetif iman. Mungkin bunyinya seperti ini “Perbedaan di ciptakan untuk melukiskan suatu keindahan”, ya mungkin kurang lebih itulah inti dari semua kutipan-kutipan abstrak yang membawa kita ke dalam toleransi akan perbedaan, toleransi yang sebagian di artikan ‘ekstrim’ bagi sebagian orang yang berujung pada pluralism bahkan multikulturalisme. Masih sebuah pertanyaan besar bagi sebagian orang “Mengapa perbedaan perspektif ini di ciptakan?’. Jika kita membahas pertanyaan ini, akan timbul diferensi dari setiap jawaban-jawaban yang di ambi dari perspektif iman masing-masing orang. Pada haikatnya tiap-tiap manusia di ciptakan sama tanpa adanya perbedaan akan apa dan siapa, manusia memang tertakdir untuk dilahirkan sama, dan manusia tertakdir pula untuk memliki perbedaan. Masih menjadi sebuah misteri dari sang Ilahi perhihal rencana-Nya dalam menciptakan perbedaan perspektif iman ini.
            Perspektif Iman merupakan fenomena lumrah yang ada di dalam komunitas sosial, dan merupakan fenomena yang membutuhkan toleransi besar dalam bersikap karena sedikit banyak, jelas ataupun samar akan menimbulkan keretakan sosial bila toleransi ini tidak tersikapi. Mungkin orang yang biasa pergi ke bangunan berkubah akan sangsit ketika melihat orang yang pergi ke bangunan bergaya katedrhal, mungkin orang yang menghias pohon cemara akan sangsit melihat orang yang memakan ketupat, semua ini tentang toleransi akan perbedaan persepektif iman.            Yang menjadi masalah bila sepasang insan dalam komunitas sosial tadi ingin mengikatkan diri dalam suatu komitmen akan hidup bersama secara bahagia. Apakah toleransi yang di agung-agung kan bagi setiap suku bangsa yang di canagkan dalam sebuah kata bernama ‘demokrasi’ dapat di terapkan dalam fenomena seperti ini. Mungkin banyak kita dengar dan kita lihat sendiri fenomena perbedaan akan perspktif iman yang di abaikan demi cinta yang terjalin antara dua insan, fenomena yang sebagian di artikan sebagai kebodohan karena pada tiap iman yang di anut menuntut akan kesejenisan akan perspktif iman. Apakah ini dari suatu perbedaan, benteng tinggi yang ‘menghalangi’ cinta antara dua insan yang ingin saling berkomiten.            Mungkin jawaban yang dapat gue berikan cuma satu mengenai perspektif iman, yaitu sejauh mana cinta lo kepada Dzat yang menciptakan perspektif iman tadi di bandingkan cinta lo terhadap se- insan manusia yang juga merupakan ciptaan-Nya, lebih sederhananya adalah apakah lo lebih mencintainya dibandingkan Dia yang menciptakannya. Ubah perspektifnya, yakinkan dia yang lo perjuangkan cintannya, demi cinta lo terhadap diri-Nya. 















Friday, July 10, 2015

bocah 'dewasa'

                 Apa yang ada di bayangan lo ketika melihat wajah seorang bocah ingusan baru saja memecahkan sebogkah vas bunga dan berusaha untuk menutupi ke bego an nya? lucu, gemas dan mungkin di selingi tawa kecil dari bibir lo. Ya karna bocah ingusan bukanlah sesosok dewasa yang telah paham akan arti benar dan salah, bocah ingusan bukan sosok yang bisa di tuntut untuk hukum menghukum, bocah ingusan bukan sosok yang bisa di tuntut akan sangsi normatif sosial, bocah ingusan hanya lah sosok periang tanpa beban, mencari kesenangan akan hidup yang berjalan, bocah ingusan hanya memahami akan sebuah permainan tanpa mengenal suatu kekalahan, bocah ingusan hanyalah sosok polos yang penuh canda dan tawa tanpa salah dan tidak bisa di salahkan.

             Sekarang apa yang ada di bayangan lo ketika melihat sesosok dewasa yang berusaha menutupi kebohongan nya dengan alasan-alasan penuh logika dan penuh perasaan? hahaha lucu seketika ketika mengingat akan hal itu semua. Sesosok dewasa bertingkan seperti bocah ingusan, bermain dalam kebohongan, bermain dengan kepalsuan, padahal seorang dewasa adalah sosok yang di tuntut untuk paham akan arti benar dan salah, sosok dewasa adalah sosok yang di tuntut untuk dapat mengerti hukum menghukum dihikum, sesosok dewasa adalah sosok yang paham akan arti sangsi normatif soial buah dari suatu kebohongan, sesosok dewasa adalah sosok yang akan di tuntut akan pembuktian ucapan yang di berikan yang di janjikan. Jangan hanya karna perasaan janji itu di buat, padahal sesungguhnya ada ke tidak yakian tuk dapat memnuhi dan membuktikan akan janji yang di buat tadi. Karna bisa di lihat akan timbul ketidak percayaan akibat kekcewaan karna sesosok dewasa tadi hanya sebatas mengumbar janji tanpa ada pebuktian, bisa di katakan hanya kebohongan berbasa manis. Jangan salahkan akan apa yang terjadi kedepannya nanti, jangan bermain dengan janji jika hanya berbuah kebohongan, hati-hati dengan apa yang di ucapkan, karna orang lain yang akan menilai dan merasakan, jangan salah kan jika ada kebisuan dari orang lain karna mungkin orang tersebut sedang berusaha beradaptasi dengan kebiasaan berbohong anda/sosok 'bocah dewasa'.

Friday, June 19, 2015

sebuah hari

                   Minggu 28-oktober-2012, mungkin adalah hari yang merupakan tonggak sejarah dalam drama serial kehgidupan yang gue jalani. Hari di mana suatu komitmen atas suatu kejujuran terpendam yang akhirnya berani di ungkapkan kepada seseorang yang pada waktu itu bukan apa-apa dan belum meenjadi apa-apa sampai seperti sekarang. Hari yang mungkin akan menjadi suatu kenangan yang mungkin akan tetap di ingat dan di kenang sampai waktu akan kehidupan ini berakhir. Hari di mana semua kegelisahan akan suatu perasaan akhirnya dapat di publikasikan secara pribadi dan di depan nya. Tapi hari itu juga merupakan hari yang akan selalu di ingat dan di rayakan dengan kesendirian. Suatu hari yang akan menggambarkan suatu proses perjalan tuk mengejar suatu tujuan akan kebahagiaan cinta. Hari dimana kepecundangan akan ketakutan akhirnya terpatahkan. Tapi hari itu juga merupakan hari dimana kegelisahan akan menemani di hari- hari berikutnya. Hari yang merupakan bentuk suatu komitmen akan kesetiaan. Hari dimana kekecewaan akan terus melanda. Hari dimana senandung akan lagu cinta terus di kumandangkan. Tapi hari itu juga di mana lagu akan kepedihan akan menjadi luapan keratapan. Hari yang dimana janji bukan akan menjadi sebuah janji. Hari dimana kenyataan harus di hadapi. Ya Minggu 28-Oktober-2012 merupakan hari yang akan selalu berbekas di hati, dan gue masih menunggu akan hari lainya yang mungkin akan menjawab seluruh teka-teki permaninan cinta yang selama ini gue arungi.

karna gue yakin kita akan bersama

                    Terkadang apa yang orang bilang mungkin hanyalah sekelompok kata yang hanya berisi omong kosong buah dari penglehiatan sesaat yang berujung pada judgement secara sepihak tanpa mengetahui kenyataan yang mungkin bertolak belakang dengan apa yang mereka lihat. Mereka bilang " Dia hanya si brengsek yang tidak bisa melakukan apa apa " ada juga yang berkata " HAH? sama sekali tidak pantas! " Mungkin ini yang di sebut teori labeling, yaitu pengkarakteran yang di dasarkan pada penilaian yang tidak berunjuk pada fakta dan realita, yang hanya di dasarkan pada asumsi pribadi tanpa logika, dan mungkin itu semua yang sedang gue alami sekarang, tiada kepercayaan atas hal-hal bermanfaat nan baik, dan hanya di asumsikan sebagai tindakan kosong yang menginginkan akan suatu keuntungan akan kegiatan tersebut. Terkadang ada perasaan lucu sembari tangan ini mengkeram karena terlalu keras menahan rasa emosi yang ingin di salurkan dalam satu hantaman keras ke wajah mereka. Mungkin sudah terbiasa gue sekarang untuk menerima komen komen miring atas apa yang gue lakukan sekarang, tapi sekarang yang terpenting bagaimana benar benar meluruskan niat, karena sesungguhnya perubahan ini di lakukan demi diriNya dan dirinya. Tiada kata terlambat tuk berubah, dan gue percaya akan slogan itu, tiada kata terlambat. Gue berharap bahwa dirinya tidak hanya dapat melihat tapi juga dapat merasakan apa yang di maksud suatu perubahan, karna tujuan gue pada dirinya adalah masa depan. Masa depan yang mungkon akan menjadi chapter terbaik dalan suatu drama kehidupan, dan demi diri nya kenapa gue rela melakukan semua ini. Mungkin ke adaan sedang memojokan gue sekarang, tapi ada satu kalimat yang akan mematahkan itu semua, " KARNA GUE YAKIN KITA AKAN BERSAMA"

Wednesday, June 17, 2015

dual face dan kesetiaan

                        Baru kali ini gue bisa berperan apik dalam memerankan suatu karakter yang mungkin apa yang gue perankan itu bertolak belakang dengan kenyataan yang gue hadapi. Bisa di bilang gue sekarang memiliki banyak muka yang sebenarnya muka-muka tersebut hanyalah topeng tuk menyembunyikan akan kenyataan dari muka sebenarnya yang gue punya. Tuntutan akan humoritas karna mungkin selama ini gue selalu mencitra kan akan kepribadian gue yang bisa tertawa di bawah tekanan. Lucu ketika melihat mereka menertawakan atas humor humor petinggi negara yang berbau kebohongan dan kemunafikan, tanpa mereka tahu gue pun melakukan hal yang sama. Merka hanya mengenal gue sebagai sosok jenaka pembawa canda hiburan tanpa mengetahui bahwa orang yang paling humoris adalah orang yang paling dalam menyembunyikan rasa pedih nya. Mereka hanya mengetahui sedih yang gue alami hanya berlangusng dalam hitungan jam karena sekali lagi kejenakaan menjadi topeng dalam gue menyembunikan rasa pedih nya akan penolakan secara tersirat dari suatu tujuan yang selama ini menjadi titik prioritas dan menjadi titik motivasi atas apa yang gue lakuakn selama ini dalam mengukir prestasi. Kadang gue berfikir apakah salah untuk menjadi seperti ini? terlalu memikirkan akan kebahagiaan hati orang lain dengan mengkensampingkan rasa kecewa mendalam yang selama ini di alami. Apakah gue tidak pantas bahagia dalam arti sebenarnya? Apakah gue harus mengalah pada kesetiaan yang di selimuti rasa sakit akan pedihnya kebimbangan? Apakah gue di sini hanya akan tetap menjadi figuran bagi rang lain dan bagi nya? Apakah kata semangat akan tergantikan dengan kata menyerah? Apakah semua ini kan berakhir dengan kesendirian? apapun pertanyaan dan jawabannya, gue kan tetap menjadi orang yang lo dan kalian kenal, dan yang terpenting perasaan ini yang gue punya terhadap lo yang selama ini menjadi tujuan gue, TIDAK PERNAH BERUBAH SEJAK 28 OKTOBER 2012 silam, dan di sini gue masih bertahan tuk menunggu akan jawaban itu.
                         

Tuesday, June 9, 2015

memang harus pisah

                     Bukan maksud untuk menyakiti atau mengingkari sebuah janji, tapi keputusan ini memang adalah suatu jawaban atas konflik-konflik berkepanjangan yang pada akhirnya akan hanya menimbulkan suatu 'gesekan'-'gesekan' yang membuat hubungan yang harmonis berbubah bah nila dalam susu. Gue harap lo mengerti akan keputusan yang di ambil ini, perubahan sikap secara drastis ini pun bukan serta merta tanpa alasan, bukan juga karna serta merta tak bisanya melupakan kisah bermakna di masa lalu, tapi lebih mengarah ke tidak sepahaman prinsip antara lo dan gue. Kita sudah terlalu berbeda, dan kurang nya rasa memaklumi menjadi pondasi utama kenapa keputusan ini gue buat. Bukan tanpa perjuangan tuk menyatakan kepada lo kalau kita memang harus pisah. Gue berfikir panjang dengan melihat potensi-potensi atas apa yang akan gue ambil ini. Gue pun berusaha untuk sebagai mana mungkin keputusan ini tidak jadi terealisasikan, tapi jujur terlalu beresiko simisal hubungan kita dulu terus di paksakan tuk di lanjutkan. Sejujurnya tujuan kita sama yaitu menuju pada suatu komitmen akan kesetiaan. Pada awalnya gue setulus hati berkeinginan tuk benar-benar tuk mewujudkan tujuan kita bersama tersebut, sebelum semua rusak oleh sikap "self winning"yang lo paksakan di gue. Gue bukan orang yang bisa di kuasai oleh tuntutan-tuntutan aneh nan tidak logis. Semua butuh proses, semua butuh penyesuaian, tidak selamanya apa yang lo inginkan bisa lo dapatkan ketika lo sebut kata "gue pengen lo kaya gini". Sekali lagi semua ini tentang proses, jangan berfikir gue orang yang mudah ingkar janji, tapi coba lebih melihat apakah lo sendiri sudah bisa menjadi seseorang yang gue mau. Permintaan gue sederhana, yaitu SABAR, percayalah akan proses, percayalah akan suatu perubahan, percayalah akan sebuah keyakinan, karna ketika lo tidak bisa mempercayai itu semua, itu menandakan bahwa lo tidak mempercayai gue dan itu juga menandakan ketidak percayaan lo akan kuasa Tuhan yang bisa membolak-balikan hati manusia. Cobalah berinstropeksi, cobalah tuk bisa lebih memaklumi lebih ketimbang menuntut lebih. Dunia ini bukan karangan fiksi yang mungkin selama ini lo ilhami dari kisah-kisah fiktif dari suatu percintaan dramatis yang gue bilang itu hanyalah karangan bodoh seseorang yang imajinatif. Lo harus ingat dunia ini adalah realita, apa yang lo berikan, akan berbanding dengan apa yang akan lo terima, dan maaf mungkin kata "memang harus pisah" yang bisa gue berikan sebagai persembahan atas apa yang telah lo dan gue lewati. 

Sunday, June 7, 2015

Rumitnya Rencana Tuhan

 Kadang gue berfikir apa masih ada orang di luar sana yang bisa mempertahRankan apa yang selama ini hanya bisa di perjuangkan tanpa bisa dinikmati atas hasil perjuangan tadi. Kadang gue berfikir apa beda nya gue dengan pahlawan? cuma bisa berjuang tanpa ada hasil, dan hanya di hargai ketika mati nanti. Kadang gue berfikir apakah gue memperjuangkan sesuatu yang salah? Kadang gue berfikir apa takdir Tuhan serumit ini? Kadang gue berfikir apa rencana Tuhan sebenar nya di balik semua ini?

            Lucu semisal gue membayang kan bahwa ini semua akan berakhir antiklimaks seperti cerita cerita fiksi drama yang menampilkan pemeran utama  dalam sudut pandang sebagai orang yang menderita karena ke ikhlasan nya, apa gue siap nanti bila misal hal itu terjadi? Cuma Tuhan yang mengerti akan rencana Nya tersebut. Kapan ini semua kan tiba pada ujung nya? haruskah bertindak sporadis tuk dapat berlari cepat tuk dapat menggapai ujung perjalanan? 


            Mereka katakan, "LO JALAN DI JALAN YANG SALAH!" mungkin steatment yang selama ini gue yang selalu gue bantah karna sampai saat ini gue masih berthan pada pendirian gue sendiri. Pendirian yang gue yakini akan membawa gue ke dalam dunia ruang waktu menuju kedewasaan, dan gue meyakini bahwa rumitnya rencana Tuhan ini yang menjadi tolak ukur bagi Nya apakah seorang gue yang rusak hidupnya dapat bertransformasi menjadi seorang yang qualitatif. Karena apa yang gue kejar selama ini merupakan suatu tanggung jawab yang akan menentukan masa depan yang akan di hadapi, bersama? atau sendiri? 


          Biar waktu yang akan jadi teman sampai nanti pembuktian dapat di tunjukan di hadapan Nya dan di depan nya, sabar, ikhlas, memaklumi, masih akan menjadi tuntutan utama dalam kisah kasih perjalanan mencari jawaban atas rumitnya Rencana Tuhan.

Thursday, June 4, 2015

untitled

              Lagi dan lagi gue yang selalu tidak akan bisa memahami siapa sejatinya lo itu, fan selama ini  sekumpulan terka an- terka an bodoh yang selalu gue lakukan tanpa betul betul memahami siapa lo sebenarnya. Gue hanya bisa memandang lo dari baris ke 5 bangku kelas tanpa bisa berkata dan berbuat apa apa. Gue hanya bisa menatap punggung lo dari kejauhan tanpa bisa mempererat jarak di antara kita, tak ada tindakan tak ada pembuktian, mungkin ini di sebabkan oleh sekumpulan kisah kisah miring tempo lalu yang menjadikan gue sekarang berada pada sudut kebimbangan. Dunia antara lo dan gue pun sudah berbeda, di tempat yang sekira nya akan selalu ada perjumpaan, lo akan selalu kembali membentang kan jarak akibat dari kisah miring tadi, ketika kita berada di tempat dimana segala ganjalan bisa di minimalisir, kan selalu ada kelit yang lo cari tuk kembali membentangkan jarak di antara kita. Gue pun bingung tuk melakukan apa, sampai gue menemukan cara tuk memangkas jarak tadi, di setiap gue beribadah, berdialog dengan Nya, gue selalu memohon dan berharap akan kesehatan dan keselamatan akan diri lo, walaupun mungkin lo ga akan pernah tau apa yang gue lakukan tadi, tapi gue percaya karna Dia yang maha mendengar dan Dia yang maha mengabulkan, walaupun jarak yang lo buat kian hari kian jauh, Dia akan selalu memangkas jarak antara kita lewat permohonan dan harapan yang selalu khusyu gue lakukan, dan begitu lah sekarang cara gue untuk sayang sama lo.

Monday, June 1, 2015

sajak anomali

Mengkelu lidah ku tuk katakan cinta pada sesorang selain dirimu, ku katakan tekad, kau serukan api perpisahan, ku bentangkan dadaku tuk menaunginmu dalam jurang prnderitaan, namun kau palingkan wajahmu seraya menandakan ku tak ada dalam dirimu, ku hanya bersabar tanpa ku dapat berbuat apa apa, namun begitu ku tetap mencintai mu apapun ke ada an nya

Saturday, May 30, 2015

dari bumi untuk kalian


Kudedikasikan raga ku hanya untuk kalian wahai manusia
Ku biarkan kalian memijakan kaki kaki kecil kalian di atas raga ku ini
Tiada amarah ku tunjukan hanya tuk menopang kehidupan kalian
Tiada sepatah permintaan ku tuntut pada kalian
Beban ku terima, tapi apa kudapat?
Kalian perkosa diriku tuk memuaskan ego ego kalian
Kalian ambil permata emas ku hanya tuk di jadikan alat pemuas kalian
Kalian gali perutku tak menyisakan tuk ku simpan
Kalian racuni diriku dengan sampah sampah berserakan
Kalian kikis sebagian diriku hanya tuk di jadikan material bangunan
Kalian jadikan diriku sebagai alasan peperangan
Kalian jadi kan diriku sebagai alibi atas korban berjatuhan
Dahulu air ku merupakan secercah harapan
Dahulu air ku tersebar di manapun kalian butuhkan
kalian minum dariku tuk melanjutkan rantai kehidupan
tapi lihat lah diriku sekarang
warna ku menghitam bagai bara yang terbakar
keberadaan ku sulit di temukan
diriku yang merupakan secercah harapan
sekarang bisa menjadi sumber ketakutan
apa yang membuatku seperti ini?
Manusia dengan limbah limbah mereka!
Tak bertanggung jawab hancurkan kemurnian diriku


Wahai manusia tidakah kalian sadar atas tindakan tindakan yang  kalian lakukan?

Saturday, May 16, 2015

figur ( an ) utama.

Pernah ga lo berada di suatu posisi dimana eksistensi keberadaan lo hanya dianggap sebagai figur yang tidak lebih sebagai figuran semata yang hanya muncul ketika figur figur pemaeran utama lain satu persatu pergi memutus kontrak janji yang telah di sepakatkan, membatalkan secara sepihak, menyelewengkan tanggung jawab yang telah dipercayakan, dan disitulah posisi lo sebagai aktor figuran yang keberadaa nya hanya dibutuhkan pada saat  moment moment krusial tersebut .



Padahal di sisi lain di dalam diri lo terpendam potensi dimana dengan telenta terpendam lo, lo berkesempatan menjadi seorang figur utama yang dengan tekad dan niat jujur lo akan meghasilkan komposisi yang memiliki tingkat presisi yang tinggi untuk dapat mengisi peran sentral tersebut. Hanya saja kepercayaan menjadi titik permasalahan krusial bagi lo dalam mengambil kesempatan memainkan peran utama itu. Mungkin karena lo dianggap gagal dalam percobaan memainkan peran itu sebelumnya, keterbatsan skill dan pengalaman yang membuat itu semua terjadi, tapi pertanyaannya apakah hanya skill dan pengalaman yang menjadi titik acuan dalam menentukan suatu pilihan? Sementara nilai- nilai moralitas dan etika di kesampingkan dan di anggap sebelah mata? Padahal lo disini masih dalam tahap perkembangan yang progresif, dan mengantongi prospek yang menjajikan, tapi kembali lagi ke permasalahn awal, lo telah di anggap GAGAL! Dan ‘pintu’ kesempatan itu seakan hanya terbuka untuk mengesankan bahwa lo masih mempunyai kesempatan ke dua, dan pada kenyataan nya, sejatinya pintu itu terbuka untuk aktor lain.

Pertanyaan nya, harus bagaimanakah sekarang? Apakah memainkan peran lain dapat menjadi solusi pragmatis atas permasalahn lo sekarang? Mungkin jawabannya adalah tidak, karena 3 tahun terakhir ini lebih dari 10 peran lain yang telah lo paksakan untuk dimainkan hanya serta merta untuk dapat beralih dari peran utama yang selama ini menjadi impian dan cita cita lo selama ini, dan nyatanya semua usaha lo itu tidak lain dan tidak bukan hanya merupakan suatu kegagalan. Karna ada ke tidak tulusan dari dalam diri lo untuk memainkan peran peran lain itu sehingga berimbas pada ke labilan dalam ke totalitasan yang merupakan elemen penting yang harus di junjung tinggi oleh seorang aktor.


Mungkin hanya penantian yang dapat lo lakukan sekarang di samping usaha lo dalam memfiksasi kan diri lo untuk dapat menunjukan kepada khalayak bahwa hanya lo lah satu satu nya aktor yang pantas dan hanya lo lah aktor yang akan mengisi peran tersebut untuk terakhir dan selamanya.

Tuesday, May 5, 2015

end?

                       

                 Apa yang di harpakan dari sekumpulan kawanan ketika memasuki era baru yang mungkin dalam hitungan hari akan berganti? tentunya regenerasi dari suatu pembaharuan di suatu kawanan yang merupakan harapan tertinggi dari para pencetus, pendri, pembangun di suatu kawanan, tapi apa jadinya  jika para regenerator yang merupakan titisan harapan harapan para pendahulu terkesan antipati terhadap regenerasi yang di angan angan kan? apakah akan tetap menjadi angan angan dari suatu harapan visioner dari para pendahulu? Apakah semua ini akan terhenti di waktu mana bila inisiatif hanya merupakan bayangan semu belaka? apakah para pendahulu ini harus meregenerasikan diri mereka sendiri sedangkan tanggung jawab akan perkara yang lebih menantang sudah siap menyambut di era era kedepan? Atau apakah tradisi yang telah di pondasikan dibiarkan melenggang ke jalan sejarah? Apakah tradisi ini akan dibiarkan tertulis dalam diary lampau atas hal hal gila dari sekumpulan pendahulu yang ternyata dapat menaikan tingkat elaktibilitas di antara populasi populasi pada suatu ekosistem? Adakah yang menyimpang dari para pendahulu dalam memperbaharui pola pikir para generasi generasi penerus? Adakah yang salah dalam sistem rantai regenerasi ini? Apakah semua ini akan menjadi buku terjudul the end of our way? 'humor' yang sangat mengibur dari para penerus.

Monday, May 4, 2015

Rumah

               Rumah? Kadang gue bingung dengan kata itu, apa makna dari suatu rumah, tempat tinggal? Tempat istirahat? Tempat transit? Atau cuma sebagai tempat lo untuk nge buang kepenatan dari sibuk nya civitas? Dalam perjalanan hidup gue banyak yg ternyaya tempat yang gue kira rumah tapi nyata nya cuma ilusi semata, banyak tempat yang gue kira untuk menata kehidupan tapi nyatanya gue hanya bisa berdiri di pintu depan, jadi apa sebenarnya definisi yang bisa menjelasakan arti rumah sebenarnya? Mungkin lebih dari 10 tempat yg pernah gue singgahi, ada yg sebulan, ada yg 1 tahun, ada yang sampe 3 kalender gue balik dan nytanya gue ga pernah menemukan apa arti rumah itu sendiri, terkadang ada juga rumah yg awal nya menyambut gue dengan penuh suka cita dan harapan tapi pada akhirnya hanya menggap gue sebagai aset baginya, bagi 'rumah' yg pernah gue singgahi mungkin gue hanya tamu potensial yg bisa menaikan derajat dari 'rumah'- 'rumah' itu. Apakah gue ga layak untuk mendapat suatu tempat dimana gue akan tinggal selamanya di sana, merawat, membahagiakan dari apa yg gue tinggali itu. Sekarang pun gue terluntang lantung di dekat suatu tempat yg udah 3 tahun ini ingin gue singgahi dan ingin menetap di dalam nya.
Kenyataan nya tempat itu hanya sekedar membuka kan pintu dan tidak memperboleh kan gue masuk, gue hanya bisa melihat dari jauh dan ber angan angan akan keindahan ketika gue bisa masuk ke dalam nya, gue sadar gue bukan apa apa dan bukan siapa siapa dan gue ga punya apa apa yg bisa meyakinkan si pemilik bahwa gue pantas untuk berada di dalam situ. Banyak orang bertamu ke dalam sana dan mungkin hanya gue yang ga dapat kesempatan, setiap kali gue ingin bertamu yanh ada hanya akan keluar kata kata dari si pemilik "apakah dia pantas untuk berada di dalam sini?" Buah dari keraguan yg berbuntut pada di telantar kan nya gue di luar sana, harus bagaimana lagi untuk gue membuktikan dan membuka mata si pemilik bahwa apa yg gue ingin kan hanya lah membuat rumah itu jadi rumah satu satu nya yang akan gue jaga dan akan gue naikan derajat nya di mata para tetangga yg sudah mempunyai rumah masing masing. Gue ingin ketika dimana pun gue berada, gue akan tetap punya rumah yg akan selalu gue pulangi, harapan sederhana dari seorang idealis yg menanti akan ada nya harapan yg selalu di komitmen kan selama 3 tahun ini.

Realita

                      Ketika lo 3 tahun untuk menunggu suatu jawaban atas usaha yang selama ini lo lakukan untuk suatu tujuan yang sebenernya bukan untuk kebahagiaan lo, dan nyatanya jawaban itu ga pernah ada dan segala pertanyaan yang ga pernah terjawab, yang lo cuma bisa lakukan adalah usaha tiada akhir sampai kejenuhan sendirilah yang akan jadi pembatas atas niat muluk- muluk lo. Tapi apakah ini semua sia- sia? apakah semua ini akan menjadi wasting orientation? pertanyaan yang mungkin mengiang ngiang di gue sekarang, karna semua itu merupakan realita yang gue kelahikan sekarang, realita yang mungkin gue tenggelam di dalamnya. Apakah ini semua akan ada akhirnya? Apakah semua ini akan terjawab? Apakah semua ini akan jadi akhir yang membinarkan mata? atau akan jadi akhir yang penuh air mata? Gue pernah mencari jawaban tapi dengan lain subjek, dan hasilnya nihil dan hanya menuntun gue ke dalam jurang petaka, yang berimbas juga pada realita gue sekarang, cuma penyesalan yang setia menemani gue atas tindakan gue tempo lalu. Kadang ada dilema antara gue harus siap menerima konsekuensi dan ke tidak siapan atas dampak dari konsekuensi tersebut, mungkin sekarang gue lagi berada dalam suatu situasi dimana apapun yang gue lakukan adalah suatu aib dan kesalahan, apakah komitmen ini adalah memang jalan yang Tuhan arahkan? Yang jelas gue bingung apa yang harus gue lakukan selanjutnya, karena kalo boleh jujur gue udah berjalan terlalu jauh dan kelelahan tapi disisi lain tidak ada jalan lain yang bisa gue lewati kecuali jalan yang gue lewati sekarang, jalan yang tiada ujung dan harapan. Harus bagaimana?

Sunday, May 3, 2015

frustated

           Masih ada jalan kah buat gue untuk sekarang, masih ada harpan kah buat gue untuk sekarang, karna hampir semua yg gue kerjain selama ini sebagai bentuk dedikasi atas konitmen yg telah gue yakinin, tapi semua ga berjalan sesuai dengan ekspetasi yg gue yg gue targetkan malah terkesesan apa yg gue lakukan selama ini cuma sebagai tindakan kosong yg ga berarti apa apa, ini semua berangkat dari sikap balik yg gue terima, gue paham kalo emang gue ga punya hak apa apa untuk sesuatu itu, karena itu seperti ada duel antara hati dan logika di dalam sini, di satu sisi gue bukan siapa siapa tapi di satu sisi gue pengen jadi apa apa, gue cuma ga mau lagi nge bohongin apa yg gue rasa karena kebohongan itu bakal jadi bumerang buat gue, dan sadar atau engga sekarang gue lagi ngerasain impact dari benturan bumerang tadi, buah dari kebohongan, pemaksaan, pemerkosaan terhadap diri gue sendiri, dan ketika gue sadar mungkin emang belom terlambat tapi mungkin juga nasi udah jadi bubur, jujur gue frustasi atas apa yg harus gue lakukan sekarang, diam? jalan? Buang? Im frustated.

Tuesday, March 24, 2015

its you

             I hope you’ll not laughing at those common  words I will write for you, because actually I’m not a guy who be able to talk about million words which can impress average people out there. Honestly, there’s something strange in me which confusing me so badly, do you know what it is? RESPONSIBLE. A single word which has million meaning inside it. A single word which every guy must have when they want to turn to be a man. A single word which every woman around the world looking for a man with implementation in this word. But this is a single word which can stab me from the back, which can embarrassed me so much, and the worst, that’s a single word which can murdered me anytime. Because RESPONSIBLE is something which never ever growing inside me until I met someone who teach me something about it. Someone who show me how to be responsible in everything I connect, and someone who impressed me with her maturity in responsible in love. I had many unlucky experience in love which affect me so deeply, but because this ‘someone’ I told I can slowly try to be a man with responsible. I don’t know why, but you know something that never ever be guess with its confuse meaning, stupidity, unpredictable emotion, but something that everyone understand about it, happiness. The answer is one, that is love, maybe this the perfect answer which can describe everything I feel until now, a perfect answer who can answer all those question about my condition right now. And come again it because that ‘someone’ I told you in entire of my story, I just wanna say thanks to that ‘someone’ with everything she show me.